Tampilkan postingan dengan label PANORAMA PUNCAK GUNUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PANORAMA PUNCAK GUNUNG. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2015

Legenda Gunung Ungaran

Gunung Ungaran adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Jawa, Indonesia. Dengan ketinggian 2.050 meter, gunung ini adalah gunung tinggi pertama yang dilihat pengendara dari Semarang ke arah selatan, di sisi kanan (barat). Menurut catatan-catatan sejarah, nama-nama lain gunung ini adalah Karundungan (prasasti Kuti), Karurungan/Karungrangan (Tantu Panggelaran), Karungrungan (Perjalanan Bujangga Manik, Serat Aji Saka, Serat Kanda), Kroenroengan (Domis, 1825), dan Ngroengroengan (Bleeker 1850, Friederich 1870)[2].

Di kaki gunung ini terletak kota Ungaran, pusat pemerintahan Kabupaten Semarang.

Gunung Ungaran termasuk gunung berapi berapi tipe strato. Gunung ini memiliki tiga puncak: Gendol, Botak, dan Ungaran. Puncak tertinggi adalah Ungaran.

Dari puncak gunung ini, jika memandang ke utara akan terlihat Laut Jawa sedangkan jika membalikkan badan, akan terlihat jajaran (dari kiri ke kanan) Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Kendalisodo dengan Rawa Peningnya, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Perahu.

Tidak ada catatan yang jelas mengenai aktivitas gunung ini. Namun, diperkirakan gunung ini pernah meletus pada zaman kerajaan dahulu, dengan letusan yang amat dahsyat sehingga menghancurkan dua pertiga bagian puncak dari semula sehingga yang dapat dilihat sekarang adalah hanya sepertiga bagian dari gunung Ungaran berapi purba. Diperkirakan, gunung ini sedang mengalami masa tidur panjang dan sewaktu-waktu dapat aktif kembali.

Gunung Ungaran mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Di lerengnya terdapat situs arkeologi berupa Candi Gedongsongo (Bahasa Jawa: gedong = gedung, songo = sembilan). Terdapat pula beberapa air terjun (curug), di antaranya Curug Semirang dan Curug Lawe. Juga terdapat gua, yang terkenal dengan nama Gua Jepang. Gua ini terletak 200 meter sebelum puncak, tepatnya di sekitar perkampungan Promasan (perkampungan para pemetik teh). Di sini terdapat pula reruntuhan bekas pemandian kuna.

Menurut mitos masyarakat setempat, di lereng gunung di antara jajaran candi ini terdapat kawah berbau belerang yang merupakan makam Dasamuka. Konon Dasamuka yang suka mabuk dikubur di kawah ini oleh Hanoman. Hanoman sendiri kemudian berdiam di Gunung Telomoyo mengawasi Dasamuka jika sewaktu-waktu bangkit. Dasamuka bisa bangkit jika ia mencium bau minuman keras, hingga masyarakat setempat (dulu) tidak berani minum minuman keras di areal Candi Gedong Songo.

Dongeng versi serupa Asal Mula Gunung Ungaran

Menurut cerita rakyat setempat Gunung Ungaran tempat Candi Gedong Songo ini berdiri dahulu kala digunakan oleh Hanoman untuk menimbun Dasamuka dalam perang besar memperebutkan Dewi Sinta. Seperti diketahui dalam cerita pawayangan Ramayana yang tersohor itu Dasamuka telah menculik Dewi Sinta dari sisi Rama, suaminya. Untuk merebut Sinta kembali pecahlah perang besar antara Dasamuka dengan bala tentara raksasanya melawan Rama yang dibantu pasukan kera pimpinan Hanoman. Syahdan dalam perang tersebut Dasamuka yang sakti tak bisa mati kendati dirajam berbagai senjata oleh Rama. Melihat itu Hanoman yang anak dewa itu kemudian mengangkat sebuah gunung untuk menimbun tubuh Dasamuka. Jadilah Dasamuka tertimbun hidup-hidup oleh gunung yang kemudian hari disebut sebagai gunung Ungaran. Dasamuka yang tertimbun hidu-hidup di dasar gunung Ungaran setiap hari mengeluarkan rintihan berupa suara menggelegak yang sebenarnya berasal dari sumber air panas yang terdapat disitu. Sumber air panas yang mengandung belerang itu sendiri akhirnya menjadi tempat mandi untuk menghilangkan beberapa penyakit kulit. Pada masa hidupnya konon Dasamuka gemar minum minuman keras hingga siapapun yang datang ke Gunung Ungaran dengan membawa minuman keras akan membangkitkan nafsu Dasamuka. Mencium aroma miras erangan Dasamuka makin menjadi-jadi, ditandai sumber air panas makin menggelegak. Kalau sampai tubuh Dasamuka bergerak-gerak bahkan bisa menimbulkan gempa kecil. Demikian menurut cerita masyarakat setempat.

Masyarakat yakin jika candi gedong songo ini ditunggu oleh makhluk gaib yang berjuluk Mbah Murdo. "Berdasarkan cerita eyang buyut Candi Gedong Songo dibangun oleh Ratu Sima untuk persembahan kepada Dewa," ujarnya seperti dikutip Misteri. Konon, tiap kali menghadapi masalah yang pelik Ratu Sima bersemedi di candi ini agar mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Agaknya, candi inipun mempunyai kekuatan yang sakti. Buktinya, kebesaran Ratu Sima diakui oleh lawan-lawannya. Bahkan beberapa kerajaan takluk dan tunduk di bawah kekuasan Ratu Sima. Namun, Siswoyo menegaskan, cerita tersebut hanyalah turun-temurun dari nenek moyangnya. Sampai saat ini banyak pengunjung yang melakukan ritual khusus di candi tersebut. Mereka memohon berbagai pertolongan agar tujuannya dapat dikabulkan. Kabarnya, candi yang paling banyak dipakai untuk bersemedi adalah candi yang terletak di deretan paling atas.

Sebelum memasuki wilayah Candi Gedong Songo, sebaiknya pengunjung harus meminta ijin terlebih dulu kepada Mbah Murdo, yang dipercaya sebagai penghuni gaib kawasan ini. Sampaikan salam kepadanya, agar perjalanan atau ritual Anda tak terganggu. Di kawasan cagar budaya Candi Gedongsongo yang bersuhu rata-rata 19 sampai 27 derajad celcius ini ternyata memiliki bio energi terbaik di Asia. Bioenergi di kawasan ini bahkan lebih baik dari yang berada di pegunungan Tibet atau pegunungan lain di Asia. Setelah kita menghirup bioenergi ini dapat memberikan kesegaran di pikiran sehingga memunculkan ide-ide segar. Hal ini akan sangat membantu memberikan kemajuan dan meningkatkan kualitas hidup. Banyak mata air dengan kepulan asap yang berbau menyengat. Konon, air ini penuh tuah. Terutama untuk menyembuhkan penyakit kulit yang diderita seseorang. Mata air keramat itu dijaga oleh Nyai Gayatri, perempuan asal Pulau Dewata. Konon, semasa hidupnya Nyai Gayatri adalah dayang Ratu Sima, yang dipercaya sebagai raja pertama di Tanah Jawa. Ketika meninggal dunia, ia memilih menjaga mata air yang mengandung belerang itu. Kabarnya, Nyai Gayatri tergolong makhluk yang baik hati. Ia suka memberi pertolongan kepada sesama, terutama menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit. Tapi, jangan coba-coba menyepelekan dia karena akibatnya bisa fatal. Pernah suatu ketika ada seorang pengunjung yang kencing di mata air tersebut. Tiba-tiba ia menjerit seperti ada yang mencekik dirinya. Setelah dibawa ke paranormal, rupanya, Nyai Gayatri, penunggu mata air itu tersinggung dengan ulah pengunjung tersebut. Setelah mohon maaf, penyakit itupun dapat disembuhkan lagi.

Para sejarawan sampai saat ini belum dapat memastikan kapan candi itu dibangun dan siapa pendiri komplek candi Gedongsongo. Namun melihat bentuk arsitektur candi, terutama bentuk bingkai kaki candi, dapat disimpulkan bangunan candi ini sejaman dengan komplek candi Dieng. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar abad VIII M, pada masa pemerintahan Dinasti Sanjaya. Hanya saja siapa nama raja pendirinya belum dapat diketahui. Candi Gedongsongo berlatar belakang agama hindu, hal ini dapat dilihat dari arca-arca yang menempati relung-relung candi. Misalnya arca Ciwa Mahadewa, Ciwa Mahaguru, Ganeca, Dhurga Nahisasuramardhini, Nandiswara dan Mahakala. Menurut Pakar tentang Candi Evi Saraswati menyebutkan bangunan candi di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua tipe. Yaitu candi Hindu dan Candi Budha. Ciri umum dari kedua tipe tersebut terletak pada bentuk bangunan. Candi Hindu cenderung ramping, lancip dan tinggi. Sedangkan Candi Budha berbentuk bulat dan besar seperti candi Borobudur. Dilihat dari fungsinya candi juga dibedakan menjadi dua fungsi, yaitu candi sebagai tempat pemujaan atau ibadah dan candi yang dipakai sebagai tempat pemakaman. Sedangkan candi yang berada di komplek Gedongsongo ini diperkirakan merupakan candi untuk pemakaman. Karena pada saat ditemukan di sekitar candi banyak terdapat abu. Sangat mungkin abu ini merupakan bekas pembakaran orang yang meninggal. Sesuai ajaran Hindu orang yang meninggal biasanya dibakar. Bangunan candi yang masih utuh bentuknya kini tinggal lima bangunan, yaitu candi I, II, III, IV dan V. Candi I terdiri satu bangunan dan masih utuh, candi II terdiri dua bangunan bangunan induk masih utuh dan satunya lagi tidak utuh. Candi III terdiri dari tiga bangunan yang semuanya masih utuh. Candi IV terdapat empat bangunan candi, tetapi tinggal satu bangunan candi saja yang masih utuh. Sedangkan Candi V tampat bekas-bekas pondasi candi yang menunjukkan bahwa di sana dahulu banyak sekali bangunan candi. Tetapi sekarang tinggal satu bangunan candi induk yang masih utuh. Candi VI, VII, VIII dan IX sekarang sudah tidak jelas lagi sisa-sisanya, karena beberapa reruntuhan bangunan yang terdapat di sana banyak yang diamankan. Demikian pula beberapa arca juga disimpan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. -
Posted by candra aditya

GUNUNG SIKUNIR

Bukit Sikunir dan "Sunrise" Terbaik di Jateng

BARRY KUSUMA Bukit Sikunir Dieng di Jawa Tengah.
GUNUNG Sindara yang biasa disebut Sindoro merupakan gunung yang mempunyai tinggi 3.150 meter di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan sebuah gunung volkano yang masih aktif yang terletak di Jawa Tengah, sangat dekat dengan Temanggung sebagai kota terdekat.

Gunung Sindara terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing. Deretan gunung berapi yang cantik ini kita bisa menikmatinya di Bukit Sikunir Dieng. Ya di sini lah spot yang paling baik untuk menikmati keindahan volcano aktif ini secara keseluruhan. Untuk mencapai Bukit Sikunir Dieng kita harus menyusuri dan mendaki jalan setapak selama 1,5 sampai 2 jam di waktu subuh.

Kawah yang disertai jurang dapat ditemukan di sisi barat laut ke selatan gunung, dan yang terbesar disebut Kembang. Sebuah kubah lava kecil menempati puncak gunung berapi. Sejarah letusan Gunung Sindara yang telah terjadi sebagian besar berjenis ringan sampai sedang.

BARRY KUSUMA Gunung Sindoro di Jawa Tengah.
Bisa dikatakan view terbaik untuk menikmati sunrise di Dieng adalah di Gunung Sikunir ini. Gunung Sikunir mungkin tidak sepopuler Gunung Merapi di Yogyakarta atau Gunung Bromo di Tengger. Gunung ini adalah salah satu gunung yang mengelilingi Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut.

Di sini kita bisa melihat keindahan Gunung Sindoro, Slamet dan barisan gunung lainnya. Lokasi
ini terletak 8 kilometer dari Dieng dan untuk menuju gunung ini adalah dengan mendaki start mulai dari jam 4 pagi.

Dalam perjalanan sangat diperlukan senter sebagai penerangan, jaket dan kondisi fisik yang kuat. Umumnya untuk mendaki gunung ini memakan waktu 45 menit dan paling lama 1 jam.

BARRY KUSUMA Bukit Sikunir Dieng di Jawa Tengah.
Perlu diingat di sini di ketinggian 2.300 meter dari permukaan laut, udara tipis, sehingga akan membuat napas kita tersengal saat mendaki. Cobalah untuk mengatur pernapasan anda melalui hidung dan dikeluarkan melalui mulut secara teratur.

Sebuah danau hijau kecil yang terletak di bagian bawah Gunung Sikunir, di lokasi Telaga Cebong ini sebenarnya adalah tempat parkir kita menuju Gunung Sikunir. Kalau kita tiba saat subuh maka danau ini tidak terlihat. Tetapi setelah menuruni Gunung Sikunir, dari jauh mulai tampak keindahan Telaga Cebong ini. Konon danau ini dinamakan Telaga Cebong karena ada banyak kecebong di danau dan juga ada yang melihat telaga ini mirip berbentuk cebong.

Selain itu pemandangan sekitar telaga ini juga sangat indah. Di sisi lain dari danau ada sebuah desa bernama Sembungan. Ini merupakan desa yang tertinggi di Jawa dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan air laut.

BARRY KUSUMA Menikmati 'sunrise' di Puncak Bukit Sikunir, Jawa Tengah.
Saat tiba di puncak Gunung Sikunir, siap-siaplah menatap pemandangan yang sangat mengagumkan. Anda dapat melihat kabut mengelilingi gunung. Bila cuaca jelas, Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi dan Ungaran akan dilihat dari Sikunir. Semakin pagi kabut semakin menghilang dan detail jelas Gunung Sindoro membuat berdecak kagum wisatawan maupun fotografer. Perjalanan yang lumayan berat di pagi hari terbayar sudah menikmati keindahan pagi di Sikunir... (BARRY KUSUMA)

PESONA GUNUNG PRAU

[catper] Pesona Gunung Prau 2.565 mdpl

Gunung Prau atau Prahu memang pendek, kadang hanya dilirik sebelah mata oleh pendaki Indonesia, tapi coba rasakan sensasi dalam pelukannya, gunung yang terkenal dengan sebutan Gunung Seribu Bukit.

Hanya memiliki ketinggian 2.565 mdpl, memang tergolong pendek dan juga tidak terkenal seperti gunung2 disekitarnya, ada Sindoro,Sumbing, Slamet, Unggaran, dll. Tapi gunung ini memiliki pesona tersendiri yang tidak kalah dengan gunung2 yang lebih terkenal dikalangan pendaki Indonesia.

Karena bentuk gunung ini memanjang, jadi secara administratif Gunung Prau yang berada di Dataran Tinggi Dieng ini meliputi wilayah Kab. Banjarnegara, Kab. Wonosobo, Kab. Batang dan Kab. Kendal. Di Campa reannya pun terdapat patok batas wilayahnya.

Gunung ini dapat ditempuh melalui beberapa Jalur Alternatif Pendakian. Lewat Jalur utara, bisa melalui Kabupaten Kendal, Semisal dari Desa Kenjuran yang berada di Kecamatan Sukoreja. Jarak tempuh perjalanan kurang lebih 6 Jam.

Alternatif lain jalur pendakian bisa dilakukan melalui Jalur selatan, yaitu lewat Dataran Tinggi Dieng atau Desa Patak Banteng. Jalur inirelatif lebih singkat, hanya sekitar 2-3 Jam perjalanan yang jalurnya lumayan terjal.



Track log diatas adalah hasil tracking dari awal start pendakian sampai turun. Untuk lebih jelasnya lihat dibawah mengenai waypoint-waypoint yang terdapat pada track log diatas.
DESA PATAK BANTENG
Berjalan sendirian dari Jakarta dan bertemu mimin Reza di Wonosobo, maka berdua saja kami melakukan pendakian ini.

Menuju Desa Patak Banteng dapat dicapai dari kota Wonosobo dengan menggunakan bis kecil jurusan Wonosobo - Dieng. Jalur ini yang saya pilih, mengingat jarak tempuh yang singkat untuk sampai ke camp areanya sekitar 3 jam saja.


POS II
Kira2 berjalan 1 jam yang tidak ada bonusnya, sampailah di Pos II, kondisi pos tidak terdapat bangunan berupa shelter ataupun pondokan


POS III
Tidak jauh dari Pos II sampailah di Pos III, kondisi sama seperti Pos II, tidak terdapat bangunan. Dari Pos III ke camp Area sudah tidak jauh lagi dan jalurnya semakin terjal, lumayan buat menguras tenaga yang kurang tidur nih.


CAMP AREA GUNUNG PRAU
Saya menyebutnya demikian, karena tempat inilah tujuan utama para pendaki, dari camp area ini kita dapat melihat tanpa halangan (kalo ga ada kabut) Gunung Sindoro Sumbing di depan mata, dan dikejauhan Gunung Merapi & Merbabu.


Panorama disekitar camp area pada sore, malam, pagi hingga siang hari


AREA PADANG SABANA & BUKIT TELETUBIES
Setelah puas berfoto-foto, kemudian perjalanan turun. Jalur turun tidak melewati jalur naek, tapi melewati Padang Sabana, Bukit Teletubies, Menara Repeater dan berakhir di Desa Dieng Kulon.


MENARA REPEATER
Kira-kira berjalan sekitar 1 jam, sampailah di Menara Repeater milik pemerintah kab Jawa Tengah, ada yang punya perhutani, operator seluler, dll.



DESA DIENG KULON
Dari Menara Repeater, menuju Desa Dieng Kulon sekitar 1 jam, dengan jalur menurun terus dengan jalur bervariasi dari terjal hingga landai. Dari sini juga dapat melihat Komplek Candi Arjuna Dieng yang terkenal itu.


TELAGA WARNA
Jalan lupa mampir ke Telaga Warna


Detil Perjalanan :
Hari Pertama :
  • Berangkat dari Jakarta numpak bis Pahala Kencana Rp.120.000
  • Sampai di Wonosobo sekitar jam 8 pagi, dijemput teman, belanja kekurangan logistik, jam 09.46 berangkat menuju Desa Patak Banteng menggunakan bis kecil tujuan Dieng Rp 5000
  • Jam 10.58 sampai di Desa Patak Banteng, kemudian beli nasi bungkus buat makan di pos II.
  • Jam 11.23 mulai pendakian
  • Jam 12.43 sampai di Pos II, istirahat maksi dulu
  • Jam 14.46 sampai di camp area Gunung Prau

Hari Kedua :
  • Jam 09.58 mulai meninggalkan camp area, turun melalui padang sabana, menara Repeater menuju desa Dieng Kulon.
  • Jam 11.07 sampai di Menara Repeater
  • Jam 13.03 sampai di Desa Dieng (selesai)

Waktu diatas sesuai dari track log GPS yang saya pakai.
Tidak ada sumber air disepanjang jalur dan juga di camp area.
Yang mau track log GPS nya silakan diunduh disini :http://www.4shared.com/rar/BPZ7ajVy/Track_Log_Mount_Prau.html

Surat Lamaran Pekerjaan



Hal   : Lamaran Pekerjaan                                                         25 Februari 2015
Lam : _


Yth . Manager PANASONIC SERVICE CENTER
   Jalan Villa Kusuma No 38
   Pekalongan



Dengan hormat ,
            Setelah membaca iklan yang dimuat di SUARA MERDEKA, 17 Februari 2015 yg menyatakan bahwa perusahaan Bapak memerlukan tenaga kerja di bagian Teknisi, Saya yg bertanda tangan di bawah ini :
  nama                     : ARIF FITRIAN
  tenpat, tgl lahir     : Kendal, 31 Maret 1996
  agama                   : Islam
  alamat                   : Penaruban Rt 04 Rw 05
                                  Kecamatan WELERI
                                  KENDAL, JAWA TENGAH
  Pendidikan           : SMK MUHAMMADIYAH 03 WELERI
  Prog. keahlian      : T.AV (Teknik Audio Video)


       Mohon kiranya dapat di terima sebagai karyawan di perusahaan yang Bapak pimpin sesuai latar belakang pendidikan saya. sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan  :
  1. fotocopy ijazah terakhir dilegalisasi
  2. surat keterangan kelakuan baik (SKKB)
  3. pas foto terbaru ukuran 4x6
  4. daftar riwayat hidup (curriculum vitac)
  5. fotocopy sertivikat magang

      Besar harapan saya untuk dapat di terima di perusahaan Bapak.
     Atas perhatian Bapak , saya ucapkan terima kasih.




       Hormat saya,



    ARIF FITRIAN