Rabu, 25 Februari 2015

Legenda Gunung Ungaran

Gunung Ungaran adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Jawa, Indonesia. Dengan ketinggian 2.050 meter, gunung ini adalah gunung tinggi pertama yang dilihat pengendara dari Semarang ke arah selatan, di sisi kanan (barat). Menurut catatan-catatan sejarah, nama-nama lain gunung ini adalah Karundungan (prasasti Kuti), Karurungan/Karungrangan (Tantu Panggelaran), Karungrungan (Perjalanan Bujangga Manik, Serat Aji Saka, Serat Kanda), Kroenroengan (Domis, 1825), dan Ngroengroengan (Bleeker 1850, Friederich 1870)[2].

Di kaki gunung ini terletak kota Ungaran, pusat pemerintahan Kabupaten Semarang.

Gunung Ungaran termasuk gunung berapi berapi tipe strato. Gunung ini memiliki tiga puncak: Gendol, Botak, dan Ungaran. Puncak tertinggi adalah Ungaran.

Dari puncak gunung ini, jika memandang ke utara akan terlihat Laut Jawa sedangkan jika membalikkan badan, akan terlihat jajaran (dari kiri ke kanan) Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Kendalisodo dengan Rawa Peningnya, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Perahu.

Tidak ada catatan yang jelas mengenai aktivitas gunung ini. Namun, diperkirakan gunung ini pernah meletus pada zaman kerajaan dahulu, dengan letusan yang amat dahsyat sehingga menghancurkan dua pertiga bagian puncak dari semula sehingga yang dapat dilihat sekarang adalah hanya sepertiga bagian dari gunung Ungaran berapi purba. Diperkirakan, gunung ini sedang mengalami masa tidur panjang dan sewaktu-waktu dapat aktif kembali.

Gunung Ungaran mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Di lerengnya terdapat situs arkeologi berupa Candi Gedongsongo (Bahasa Jawa: gedong = gedung, songo = sembilan). Terdapat pula beberapa air terjun (curug), di antaranya Curug Semirang dan Curug Lawe. Juga terdapat gua, yang terkenal dengan nama Gua Jepang. Gua ini terletak 200 meter sebelum puncak, tepatnya di sekitar perkampungan Promasan (perkampungan para pemetik teh). Di sini terdapat pula reruntuhan bekas pemandian kuna.

Menurut mitos masyarakat setempat, di lereng gunung di antara jajaran candi ini terdapat kawah berbau belerang yang merupakan makam Dasamuka. Konon Dasamuka yang suka mabuk dikubur di kawah ini oleh Hanoman. Hanoman sendiri kemudian berdiam di Gunung Telomoyo mengawasi Dasamuka jika sewaktu-waktu bangkit. Dasamuka bisa bangkit jika ia mencium bau minuman keras, hingga masyarakat setempat (dulu) tidak berani minum minuman keras di areal Candi Gedong Songo.

Dongeng versi serupa Asal Mula Gunung Ungaran

Menurut cerita rakyat setempat Gunung Ungaran tempat Candi Gedong Songo ini berdiri dahulu kala digunakan oleh Hanoman untuk menimbun Dasamuka dalam perang besar memperebutkan Dewi Sinta. Seperti diketahui dalam cerita pawayangan Ramayana yang tersohor itu Dasamuka telah menculik Dewi Sinta dari sisi Rama, suaminya. Untuk merebut Sinta kembali pecahlah perang besar antara Dasamuka dengan bala tentara raksasanya melawan Rama yang dibantu pasukan kera pimpinan Hanoman. Syahdan dalam perang tersebut Dasamuka yang sakti tak bisa mati kendati dirajam berbagai senjata oleh Rama. Melihat itu Hanoman yang anak dewa itu kemudian mengangkat sebuah gunung untuk menimbun tubuh Dasamuka. Jadilah Dasamuka tertimbun hidup-hidup oleh gunung yang kemudian hari disebut sebagai gunung Ungaran. Dasamuka yang tertimbun hidu-hidup di dasar gunung Ungaran setiap hari mengeluarkan rintihan berupa suara menggelegak yang sebenarnya berasal dari sumber air panas yang terdapat disitu. Sumber air panas yang mengandung belerang itu sendiri akhirnya menjadi tempat mandi untuk menghilangkan beberapa penyakit kulit. Pada masa hidupnya konon Dasamuka gemar minum minuman keras hingga siapapun yang datang ke Gunung Ungaran dengan membawa minuman keras akan membangkitkan nafsu Dasamuka. Mencium aroma miras erangan Dasamuka makin menjadi-jadi, ditandai sumber air panas makin menggelegak. Kalau sampai tubuh Dasamuka bergerak-gerak bahkan bisa menimbulkan gempa kecil. Demikian menurut cerita masyarakat setempat.

Masyarakat yakin jika candi gedong songo ini ditunggu oleh makhluk gaib yang berjuluk Mbah Murdo. "Berdasarkan cerita eyang buyut Candi Gedong Songo dibangun oleh Ratu Sima untuk persembahan kepada Dewa," ujarnya seperti dikutip Misteri. Konon, tiap kali menghadapi masalah yang pelik Ratu Sima bersemedi di candi ini agar mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Agaknya, candi inipun mempunyai kekuatan yang sakti. Buktinya, kebesaran Ratu Sima diakui oleh lawan-lawannya. Bahkan beberapa kerajaan takluk dan tunduk di bawah kekuasan Ratu Sima. Namun, Siswoyo menegaskan, cerita tersebut hanyalah turun-temurun dari nenek moyangnya. Sampai saat ini banyak pengunjung yang melakukan ritual khusus di candi tersebut. Mereka memohon berbagai pertolongan agar tujuannya dapat dikabulkan. Kabarnya, candi yang paling banyak dipakai untuk bersemedi adalah candi yang terletak di deretan paling atas.

Sebelum memasuki wilayah Candi Gedong Songo, sebaiknya pengunjung harus meminta ijin terlebih dulu kepada Mbah Murdo, yang dipercaya sebagai penghuni gaib kawasan ini. Sampaikan salam kepadanya, agar perjalanan atau ritual Anda tak terganggu. Di kawasan cagar budaya Candi Gedongsongo yang bersuhu rata-rata 19 sampai 27 derajad celcius ini ternyata memiliki bio energi terbaik di Asia. Bioenergi di kawasan ini bahkan lebih baik dari yang berada di pegunungan Tibet atau pegunungan lain di Asia. Setelah kita menghirup bioenergi ini dapat memberikan kesegaran di pikiran sehingga memunculkan ide-ide segar. Hal ini akan sangat membantu memberikan kemajuan dan meningkatkan kualitas hidup. Banyak mata air dengan kepulan asap yang berbau menyengat. Konon, air ini penuh tuah. Terutama untuk menyembuhkan penyakit kulit yang diderita seseorang. Mata air keramat itu dijaga oleh Nyai Gayatri, perempuan asal Pulau Dewata. Konon, semasa hidupnya Nyai Gayatri adalah dayang Ratu Sima, yang dipercaya sebagai raja pertama di Tanah Jawa. Ketika meninggal dunia, ia memilih menjaga mata air yang mengandung belerang itu. Kabarnya, Nyai Gayatri tergolong makhluk yang baik hati. Ia suka memberi pertolongan kepada sesama, terutama menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit. Tapi, jangan coba-coba menyepelekan dia karena akibatnya bisa fatal. Pernah suatu ketika ada seorang pengunjung yang kencing di mata air tersebut. Tiba-tiba ia menjerit seperti ada yang mencekik dirinya. Setelah dibawa ke paranormal, rupanya, Nyai Gayatri, penunggu mata air itu tersinggung dengan ulah pengunjung tersebut. Setelah mohon maaf, penyakit itupun dapat disembuhkan lagi.

Para sejarawan sampai saat ini belum dapat memastikan kapan candi itu dibangun dan siapa pendiri komplek candi Gedongsongo. Namun melihat bentuk arsitektur candi, terutama bentuk bingkai kaki candi, dapat disimpulkan bangunan candi ini sejaman dengan komplek candi Dieng. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar abad VIII M, pada masa pemerintahan Dinasti Sanjaya. Hanya saja siapa nama raja pendirinya belum dapat diketahui. Candi Gedongsongo berlatar belakang agama hindu, hal ini dapat dilihat dari arca-arca yang menempati relung-relung candi. Misalnya arca Ciwa Mahadewa, Ciwa Mahaguru, Ganeca, Dhurga Nahisasuramardhini, Nandiswara dan Mahakala. Menurut Pakar tentang Candi Evi Saraswati menyebutkan bangunan candi di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua tipe. Yaitu candi Hindu dan Candi Budha. Ciri umum dari kedua tipe tersebut terletak pada bentuk bangunan. Candi Hindu cenderung ramping, lancip dan tinggi. Sedangkan Candi Budha berbentuk bulat dan besar seperti candi Borobudur. Dilihat dari fungsinya candi juga dibedakan menjadi dua fungsi, yaitu candi sebagai tempat pemujaan atau ibadah dan candi yang dipakai sebagai tempat pemakaman. Sedangkan candi yang berada di komplek Gedongsongo ini diperkirakan merupakan candi untuk pemakaman. Karena pada saat ditemukan di sekitar candi banyak terdapat abu. Sangat mungkin abu ini merupakan bekas pembakaran orang yang meninggal. Sesuai ajaran Hindu orang yang meninggal biasanya dibakar. Bangunan candi yang masih utuh bentuknya kini tinggal lima bangunan, yaitu candi I, II, III, IV dan V. Candi I terdiri satu bangunan dan masih utuh, candi II terdiri dua bangunan bangunan induk masih utuh dan satunya lagi tidak utuh. Candi III terdiri dari tiga bangunan yang semuanya masih utuh. Candi IV terdapat empat bangunan candi, tetapi tinggal satu bangunan candi saja yang masih utuh. Sedangkan Candi V tampat bekas-bekas pondasi candi yang menunjukkan bahwa di sana dahulu banyak sekali bangunan candi. Tetapi sekarang tinggal satu bangunan candi induk yang masih utuh. Candi VI, VII, VIII dan IX sekarang sudah tidak jelas lagi sisa-sisanya, karena beberapa reruntuhan bangunan yang terdapat di sana banyak yang diamankan. Demikian pula beberapa arca juga disimpan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. -
Posted by candra aditya

GUNUNG SIKUNIR

Bukit Sikunir dan "Sunrise" Terbaik di Jateng

BARRY KUSUMA Bukit Sikunir Dieng di Jawa Tengah.
GUNUNG Sindara yang biasa disebut Sindoro merupakan gunung yang mempunyai tinggi 3.150 meter di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan sebuah gunung volkano yang masih aktif yang terletak di Jawa Tengah, sangat dekat dengan Temanggung sebagai kota terdekat.

Gunung Sindara terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing. Deretan gunung berapi yang cantik ini kita bisa menikmatinya di Bukit Sikunir Dieng. Ya di sini lah spot yang paling baik untuk menikmati keindahan volcano aktif ini secara keseluruhan. Untuk mencapai Bukit Sikunir Dieng kita harus menyusuri dan mendaki jalan setapak selama 1,5 sampai 2 jam di waktu subuh.

Kawah yang disertai jurang dapat ditemukan di sisi barat laut ke selatan gunung, dan yang terbesar disebut Kembang. Sebuah kubah lava kecil menempati puncak gunung berapi. Sejarah letusan Gunung Sindara yang telah terjadi sebagian besar berjenis ringan sampai sedang.

BARRY KUSUMA Gunung Sindoro di Jawa Tengah.
Bisa dikatakan view terbaik untuk menikmati sunrise di Dieng adalah di Gunung Sikunir ini. Gunung Sikunir mungkin tidak sepopuler Gunung Merapi di Yogyakarta atau Gunung Bromo di Tengger. Gunung ini adalah salah satu gunung yang mengelilingi Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut.

Di sini kita bisa melihat keindahan Gunung Sindoro, Slamet dan barisan gunung lainnya. Lokasi
ini terletak 8 kilometer dari Dieng dan untuk menuju gunung ini adalah dengan mendaki start mulai dari jam 4 pagi.

Dalam perjalanan sangat diperlukan senter sebagai penerangan, jaket dan kondisi fisik yang kuat. Umumnya untuk mendaki gunung ini memakan waktu 45 menit dan paling lama 1 jam.

BARRY KUSUMA Bukit Sikunir Dieng di Jawa Tengah.
Perlu diingat di sini di ketinggian 2.300 meter dari permukaan laut, udara tipis, sehingga akan membuat napas kita tersengal saat mendaki. Cobalah untuk mengatur pernapasan anda melalui hidung dan dikeluarkan melalui mulut secara teratur.

Sebuah danau hijau kecil yang terletak di bagian bawah Gunung Sikunir, di lokasi Telaga Cebong ini sebenarnya adalah tempat parkir kita menuju Gunung Sikunir. Kalau kita tiba saat subuh maka danau ini tidak terlihat. Tetapi setelah menuruni Gunung Sikunir, dari jauh mulai tampak keindahan Telaga Cebong ini. Konon danau ini dinamakan Telaga Cebong karena ada banyak kecebong di danau dan juga ada yang melihat telaga ini mirip berbentuk cebong.

Selain itu pemandangan sekitar telaga ini juga sangat indah. Di sisi lain dari danau ada sebuah desa bernama Sembungan. Ini merupakan desa yang tertinggi di Jawa dengan ketinggian 2.300 meter di atas permukaan air laut.

BARRY KUSUMA Menikmati 'sunrise' di Puncak Bukit Sikunir, Jawa Tengah.
Saat tiba di puncak Gunung Sikunir, siap-siaplah menatap pemandangan yang sangat mengagumkan. Anda dapat melihat kabut mengelilingi gunung. Bila cuaca jelas, Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi dan Ungaran akan dilihat dari Sikunir. Semakin pagi kabut semakin menghilang dan detail jelas Gunung Sindoro membuat berdecak kagum wisatawan maupun fotografer. Perjalanan yang lumayan berat di pagi hari terbayar sudah menikmati keindahan pagi di Sikunir... (BARRY KUSUMA)

PESONA GUNUNG PRAU

[catper] Pesona Gunung Prau 2.565 mdpl

Gunung Prau atau Prahu memang pendek, kadang hanya dilirik sebelah mata oleh pendaki Indonesia, tapi coba rasakan sensasi dalam pelukannya, gunung yang terkenal dengan sebutan Gunung Seribu Bukit.

Hanya memiliki ketinggian 2.565 mdpl, memang tergolong pendek dan juga tidak terkenal seperti gunung2 disekitarnya, ada Sindoro,Sumbing, Slamet, Unggaran, dll. Tapi gunung ini memiliki pesona tersendiri yang tidak kalah dengan gunung2 yang lebih terkenal dikalangan pendaki Indonesia.

Karena bentuk gunung ini memanjang, jadi secara administratif Gunung Prau yang berada di Dataran Tinggi Dieng ini meliputi wilayah Kab. Banjarnegara, Kab. Wonosobo, Kab. Batang dan Kab. Kendal. Di Campa reannya pun terdapat patok batas wilayahnya.

Gunung ini dapat ditempuh melalui beberapa Jalur Alternatif Pendakian. Lewat Jalur utara, bisa melalui Kabupaten Kendal, Semisal dari Desa Kenjuran yang berada di Kecamatan Sukoreja. Jarak tempuh perjalanan kurang lebih 6 Jam.

Alternatif lain jalur pendakian bisa dilakukan melalui Jalur selatan, yaitu lewat Dataran Tinggi Dieng atau Desa Patak Banteng. Jalur inirelatif lebih singkat, hanya sekitar 2-3 Jam perjalanan yang jalurnya lumayan terjal.



Track log diatas adalah hasil tracking dari awal start pendakian sampai turun. Untuk lebih jelasnya lihat dibawah mengenai waypoint-waypoint yang terdapat pada track log diatas.
DESA PATAK BANTENG
Berjalan sendirian dari Jakarta dan bertemu mimin Reza di Wonosobo, maka berdua saja kami melakukan pendakian ini.

Menuju Desa Patak Banteng dapat dicapai dari kota Wonosobo dengan menggunakan bis kecil jurusan Wonosobo - Dieng. Jalur ini yang saya pilih, mengingat jarak tempuh yang singkat untuk sampai ke camp areanya sekitar 3 jam saja.


POS II
Kira2 berjalan 1 jam yang tidak ada bonusnya, sampailah di Pos II, kondisi pos tidak terdapat bangunan berupa shelter ataupun pondokan


POS III
Tidak jauh dari Pos II sampailah di Pos III, kondisi sama seperti Pos II, tidak terdapat bangunan. Dari Pos III ke camp Area sudah tidak jauh lagi dan jalurnya semakin terjal, lumayan buat menguras tenaga yang kurang tidur nih.


CAMP AREA GUNUNG PRAU
Saya menyebutnya demikian, karena tempat inilah tujuan utama para pendaki, dari camp area ini kita dapat melihat tanpa halangan (kalo ga ada kabut) Gunung Sindoro Sumbing di depan mata, dan dikejauhan Gunung Merapi & Merbabu.


Panorama disekitar camp area pada sore, malam, pagi hingga siang hari


AREA PADANG SABANA & BUKIT TELETUBIES
Setelah puas berfoto-foto, kemudian perjalanan turun. Jalur turun tidak melewati jalur naek, tapi melewati Padang Sabana, Bukit Teletubies, Menara Repeater dan berakhir di Desa Dieng Kulon.


MENARA REPEATER
Kira-kira berjalan sekitar 1 jam, sampailah di Menara Repeater milik pemerintah kab Jawa Tengah, ada yang punya perhutani, operator seluler, dll.



DESA DIENG KULON
Dari Menara Repeater, menuju Desa Dieng Kulon sekitar 1 jam, dengan jalur menurun terus dengan jalur bervariasi dari terjal hingga landai. Dari sini juga dapat melihat Komplek Candi Arjuna Dieng yang terkenal itu.


TELAGA WARNA
Jalan lupa mampir ke Telaga Warna


Detil Perjalanan :
Hari Pertama :
  • Berangkat dari Jakarta numpak bis Pahala Kencana Rp.120.000
  • Sampai di Wonosobo sekitar jam 8 pagi, dijemput teman, belanja kekurangan logistik, jam 09.46 berangkat menuju Desa Patak Banteng menggunakan bis kecil tujuan Dieng Rp 5000
  • Jam 10.58 sampai di Desa Patak Banteng, kemudian beli nasi bungkus buat makan di pos II.
  • Jam 11.23 mulai pendakian
  • Jam 12.43 sampai di Pos II, istirahat maksi dulu
  • Jam 14.46 sampai di camp area Gunung Prau

Hari Kedua :
  • Jam 09.58 mulai meninggalkan camp area, turun melalui padang sabana, menara Repeater menuju desa Dieng Kulon.
  • Jam 11.07 sampai di Menara Repeater
  • Jam 13.03 sampai di Desa Dieng (selesai)

Waktu diatas sesuai dari track log GPS yang saya pakai.
Tidak ada sumber air disepanjang jalur dan juga di camp area.
Yang mau track log GPS nya silakan diunduh disini :http://www.4shared.com/rar/BPZ7ajVy/Track_Log_Mount_Prau.html

Surat Lamaran Pekerjaan



Hal   : Lamaran Pekerjaan                                                         25 Februari 2015
Lam : _


Yth . Manager PANASONIC SERVICE CENTER
   Jalan Villa Kusuma No 38
   Pekalongan



Dengan hormat ,
            Setelah membaca iklan yang dimuat di SUARA MERDEKA, 17 Februari 2015 yg menyatakan bahwa perusahaan Bapak memerlukan tenaga kerja di bagian Teknisi, Saya yg bertanda tangan di bawah ini :
  nama                     : ARIF FITRIAN
  tenpat, tgl lahir     : Kendal, 31 Maret 1996
  agama                   : Islam
  alamat                   : Penaruban Rt 04 Rw 05
                                  Kecamatan WELERI
                                  KENDAL, JAWA TENGAH
  Pendidikan           : SMK MUHAMMADIYAH 03 WELERI
  Prog. keahlian      : T.AV (Teknik Audio Video)


       Mohon kiranya dapat di terima sebagai karyawan di perusahaan yang Bapak pimpin sesuai latar belakang pendidikan saya. sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan  :
  1. fotocopy ijazah terakhir dilegalisasi
  2. surat keterangan kelakuan baik (SKKB)
  3. pas foto terbaru ukuran 4x6
  4. daftar riwayat hidup (curriculum vitac)
  5. fotocopy sertivikat magang

      Besar harapan saya untuk dapat di terima di perusahaan Bapak.
     Atas perhatian Bapak , saya ucapkan terima kasih.




       Hormat saya,



    ARIF FITRIAN

Sabtu, 21 Februari 2015

Teknik Memasang Membran dan Spoel Loudspeaker Subwoofer Bekas

Pada posting kali ini akan dibahas mengenai teknik pemasangan membran pada loudspeaker khususnya jenis subwoofer. Pertama siapkan terlebih dahulu rangka loudspeaker bekas, pada kasus ini dipakai rangka bekas loudspeaker jenis subwoofer. Perbedaan yang paling menonjol pada loudspeaker woofer dan subwoofer yaitu diameter spoel lilitan email dan diameter lubang spoel lilitan email pada membran loudspeaker serta ukuran diameter dumper (mirip tempat obat nyamuk kuning dan cokelat). Pada ukuran untuk jenis loudspeaker subwoofer ukuran diameter tersebut akan melebihi dari ukuran loudspeaker woofer sehingga untuk ukuran (inchi) diameter loudspeaker yang sama antara woofer dan subwoofer biasanya memiliki tenaga yang berbeda dalam menggetarkan membran loudspeaker begutu pula dayanya. Sedangkan untuk impedansi loudspeaker tergantung pada kegunaannya untuk audio mobil atau untuk audio rumahan. Jika digunakan untuk audio mobil biasanya memiliki impedansi loudspeaker berkisar antara 4 sampai 6 ohm dan lilitan pada spoel yang digunakan juga diameter emailnya lebih besar dari pada diameter email untuk audio rumahan, sedangkan untuk audio rumahan biasanya impedansi loudspeaker berkisar antara 8 sampai 16 ohm.

Untuk impedansi 16 ohm biasanya digunakan pada loudspeaker berbentuk corong atau berbentuk kolom seperti yang digunakan di masjid dengan jarak antara loudspeaker dan power amplifier cukup jauh yaitu sekitar 10 sampai 50 meter, bahkan lebih sehingga sering digunakan transformator untuk menyesuaikan impedansi antara loudspeaker dan power amplifier untuk transmisi sinyal dengan meninggikan tegangan amplitudo (mirip dengan sistem transmisi listrik jarak jauh). Selain itu ada pula sistem loudspeaker yang menggunakan spoel ganda sehingga bisa kita konfigurasi impedansi untuk 4 atau 8 ohm dengan menghubungkan masing-masing spoel secara seri atau paralel.

Setelah memahami  penjelasan diatas selanjutnya bila rangka loudspeaker ukuran 10" (diameter 10 inchi)  sudah siap seperti pada contoh gambar maka yang perlu dilakukan adalah membuang semua membran yang lama kecuali dumper bila masih baik dan membersihkan semua kotoran terutama debu dan pasir baik pada rangka sampai pada lubang spoel pada magnet.

Gambar rangka loudspeaker ukuran 10" yang sudah dibersihkan tampak belakang dan samping.
Setelah dibersihkan maka kita perlu memikirkan kegunaan loudspeaker nantinya, akan digunakan untuk audio mobil ataukah untuk audio rumahan. Karena pilihan tersebut akan menentukan jenis ukuran diameter email dan banyaknya lilitan email pada spoel. Pada kasus ini dipilih spoel yang akan digunakan untuk audio rumahan sehingga biasanya dapat digunakan spoel loudspeaker ukuran 15" mengingat pada loudspeaker subwoofer ini memerlukan diameter yang lebih besar sesuai ukuran aslinya. (Sedikit informasi berdasarkan survey yang sudah saya lakukan bahwa jika anda mencari jenis spoel untuk impedansi 4 ohm agar dapat digunakan di audio mobil mungkin sedikit sulit untuk ditemukan dan jarang tersedia di toko elektronika).

Gambar spoel untuk loudspeaker ukuran 15" dan ring loudspeker ukuran 10"

Selanjutnya untuk membran loudspeaker subeoofer 10" dapat menggunakan membran loudspeaker woofer dengan sedikit memodifikasi diameter ukuran lubang spoelnya supaya pas dengan ukuran spoel loudspeaker 15". Untuk tutup spoel dapat digunakan tutup spoel untuk loudspeaker woofer ukuran 12".

Gambar membran loudspeaker woofer 10" dan tutup spoel untuk loudspeaker woofer 12"

Setelah semua bahan telah ditentukan maka langka pertama yaitu memasang spoel pada dumper yang sudah terpasang pada rangka loudspeaker subwoofer. Spoel dimasukkan dengan hati-hati jangan sampai rusak atau tertekuk. Untuk memudahkan biasanua dilakukan dengan memasukkannya secara sedikit miring dan sedikit diputar. Apabila sudah masuk ke dalam lubang dumper maka sedikit ditekan supaya dapat masuk pula ke dalam lubang magnet. Jarak masuk spoel pada magnet tidak boleh terlalu dalam dan terlalu keluar dari magnet, kira-kira 2/3 bagian spoel (dilihat dari email kuning pada spoel) harus tertanam didalam lubang magnet dan 1/3 bagian spoel berada diluar magnet. Sehingga nantinya didapatkan hasil yang optimal saat spoel bergetar keluar dan masuk dari magnet karena hasil kualitas suara yang baik sangat dipengaruhi pada pemasangan spoel ini dengan jarak yang tepat. Setelah terpasang dengan jarak spoel yang sesuai dengan magnet periksalah apakah saat spoel sedikit dinaikkan dan diturunkan terjadi gesekan ataukah tidak, jika masih terjadi suara gesekan maka aturlah kembali spoel (kiri, kanan, atas dan bawah spoel) agar didapatkan suara gesekan sekecil mngkin tanpa merubah jarak spoel disekitar magnet tersebut. Setidaknya carilah gesekan sekecil mungkin, jika memang tidak ada gesekan saat spoel sedikit digerakkan naik dan turun itu lebih baik, hal itu berarti kualitas spoel dan tingkat kebersihan lubang magnet (dari kotoran debu atau pasir) sangat baik.

Gambar disamping adalah salah satu cara untuk memeriksa gesekan antara spoel yang terpasang. Gesekan antara spoel dan magnet pada loudspeker akan sangat terasa saat spoel digerakkan akibat adanya kotoran atau posisi yang kurang pas. Oleh karena itu atur posisi spoel dengan sesuai dan jangan gunakan lem terlebih dahulu jika masih didapatkan posisi yang belum sesuai.
Apabila posisi spoel telah sesuai maka dapat digunakan lem untuk merekatkan antara dumper dan spoel. Lem yang digunakan tidak boleh menggunakan lem yang bersifat sangat encer karena malah dapat merusak sebab lem yang cair tersebut akan masuk di sela-sela spoel dan dumper hingga sampai ke magnet yang mengkibatkan semuanya terkunci dan tidak dapat digerakkan karena lem tersebut. Gunakan lem yang sdikit kental dan ratakan di seluruh permukaan kontak antara spoel dan dumper.

Gambar disamping merupakan proses yang dilakukan untuk merekatkan antara spoel dan dumper dengan lem yang tidak terlalu cair. Mungkin lem yang tidak terlalu cair tersebut akan memerlukan waktu yang lebih lama daripada lem yang cair yaitu kurang lebih 6 jam atau lebih. Tetapi lebih efektif untuk mencegah kerusakan akibat merembesnya lem ke dalam magnet.Jika lem sudah mengeras dalam waktu 6 jam atau lebih maka dapat dicek kembali gesekan antara spoel dan magnet, kali ini dengan gerakan sedikit jauh dari sebelumnya.


Jika masih tetap sama seperti semula berarti proses berjalan dengan baik dan dapat langsung dilanjutkan ke langkah selanjutnya. Bila ada sedikit gesekan maka masih dapat dilakukan pembersihan pada sela-sela spoel dan magnet serta penataan posisi pada membran speaker. Tetapi bila gesekan malah bertambah keras berarti perlu dilakukan penataan ulang spoel.





Langkah selanjutnya yaitu dengan pemasangan membran woofer pada loudspeaker kali ini cara memasukkan membran hampir sama dengan cara memasukkan spoel ke dumper, yaitu dengan sedikit miring dan memutar. Bila sudah masuk maka aturlah posisi membran supaya berada di tengah dengan melihat ujung ujung membran karet di pinggir sekeliling loudspeaker. Jika sudah berada di tengah maka dapat diberi lem antara tengah membran dan spoel serta tunggulah kembali sampai mengering.

Setelah lem kering jangan lupa bagian bawah membran juga diberi lem secara merata. Sambil menunggu lem pada bawah membran kering sekitar 3 jam dapat dilakukan pengecekan dan penataan pergerakan  membran naik dan turun. Carilah posisi saat pergerakan membran naik dan turun tidak ada gesekan sama sekali. Jika posisi saat membran digerakkan tidak terjadi gesekan didapatkan berarti nantinya loudspeaker dapat bergetar dengan sempurna dan tanpa terdengar suara cacat akibat gesekan saat membran bergetar keras.

Jangan lupa untuk membuat dua buah lubang untuk penghubung ujung terminal spoel. Berilah kabel tembaga elastis atau sering disebut kabel tali emas speaker, bila tidak ditemukan bisa gunakan kabel serabut biasa yang sedikit tebal dan banyak yang dipilin / disatukan untuk menghubungkan ujung email spoel dan terminal kontak untuk loudspeaker (disolder).

Selanjutnya pemberian lem merata di sekeliling membran luar tepat dikaret kontak dengan sekeliling rangka loudspeaker. Ini proses final yang menentukan pergerakan membran mulus atau tidak. Maka sambil menunggu lem kering dengan posisi membran luar yang masih bisa sedikit digeser cari posisi sebaik mungkin tanpa gesekan dengan menggerakkan membran naik dan turun sambil menggeser posisi bila belum didapatkan posisi yang sesuai. Bila posisi sudah sesuai maka segera tekan, supaya lem lebih kuat merekat.


Setelah semuanya selesai maka ring membran dan tutup spoel dapat dipasang dengan lem dan siap dilakukan pengujian.

Ring pada loudspeaker tersebut dapat dipasang untuk menjaga agar loudspeaker tetap merekat sempurna meskipun terjadi getaran yang cukup kuat.
      

sumber: ARI BAWONO

osiloskop



I. Latar Belakang
            Osiloskop sinar katoda (cathode ray oscilloscop, selanjutnya disebut CRO) adalah instrumen laboratorium yang sangat bermanfaat dan terandalkan yang digunakan untuk pengukuran dan analisa bentuk-bentuk gelombang dan gejala lain dalam rangkaian-rangkaian elektronik. Pada dasarnya CRO adalah alat pembuat grafik atau gambar (plotter) X-Y yang sangat cepat yang memperagakan sebuah sinyal masukan terhadap sinyal lain atau terhadap waktu. Pena (“stylus”) plotter ini adalah sebuah bintik cahaya yang bergerak melalui permukaan layar dalam memberi tanggapan terhadap tegangan-tegangan masukan.
            Dalam pemakaian CRO yang biasa, sumbu X atau masukan horizontal adalah tegangan tanjak (ramp voltage) linear yang dibangkitkan secara internal, atau basis waktu (time base) yang secara periodik menggerakkan bintik cahaya dari kiri ke kanan melalui permukaan layar. Tegangan yang akan diperiksa dimasukkan ke sumbu Y atau masukan vertical CRO, menggerakkan bintik ke atas dan ke bawah sesuai dengan nilai sesaat tegangan masukan. Selanjutnya bintik tersebut menghasilkan jejak berkas layar pada gambar yang menunjukkan variasi tegangan masukan sebagai fungsi dari waktu. Bila tegangan masukan berulang dengan laju yang cukup cepat, gambar akan kelihatan sebagai sebuah pola yang diam pada layar. Dengan demikian CRO melengkapi suatu cara pengamatan tegangan yang berubah terhadap waktu.
            Di samping tegangan, CRO dapat menyajikan gambaran visual dari berbagai fonemena dinamik melalui pemakaian transducer yang mengubah arus, tekanan, regangan, temperatur, percepatan, dan banyak besaran fisis lainnya menjadi tegangan.
            CRO digunakan untuk menyelidiki bentuk gelombang, peristiwa transien dan besaran lainnya yang berubah terhadap waktu dari frekuensi yang sangat rendah ke frekuensi yang sangat tinggi. Pencatatan kejadian ini dapat dilakukan oleh kamera khusus yang ditempelkan ke CRO guna penafsiran kuantitatif.
            Osiloskop sinar katoda dapat digunakan untuk bermacam-macam pengukuran besaran fisika. Besaran listrik yang dapat diukur dengan menggunakan alat itu antara lain tegangan searah, tegangan bolak-balik, arus searah, arus bolak-balik, waktu, sudut fasa, frekuensi, dan untuk bermacam kegiatan penilaian bentuk gelombang seperti waktu timbul dan waktu turun. Banyak besaran nirlistrik seperti tekanan, gaya tarik, suhu, dan kecepatan dapat diukur dengan menggunakan tranduser sebagai pengubah ke besaran tegangan.
II.        DASAR TEORI
A.    Pengertian
Osiloskop adalah alat ukur yang mana dapat menunjukan kepada kita “bentuk” dari sinyal listrik dengan menunjukan grafik dari tegangan terhadap waktu pada layarnya. Itu seperti layaknya voltmeter dengan fungsi kemampuan lebih, penampilan tegangan berubah terhadap waktu, sebuah graticule setiap 1 cm grid membuat kita dapat melakukan pengukuran dari tegangan dan waktu pada layar (screen).[1]

Gambar Osiloskop[2]
Osiloskop terdiri dari dua bagian yaitu Display dan Panel Control :

Display 
Display  menyerupai tampilan layar pada televisi. Display pada Oscilloscope berfungsi sebagai tempat tampilan sinyal uji. Pada Display Oscilloscope terdapat garis-garis melintang secara vertikal dan horizontal yang membentuk kotak-kotak yang disebut dengan div. Arah horizontal mewakili sumbu waktu dan garis vertikal mewakili sumbu tegangan.

Panel Control
Panel kontrol berisi tombol-tombol yang bisa digunakan untuk menyesuaikan tampilan di layar. Tombol-tombol pada panel osiloskop antara lain :
  • Focus : Digunakan untuk mengatur fokus 
  • Intensity : Untuk mengatur kecerahan garis yang ditampilkan di layar
  • Trace rotation : Mengatur kemiringan garis sumbu Y=0 di layar
  • Volt/div : Mengatur berapa nilai tegangan yang diwakili oleh satu div di layar
  • Time/div : Mengatur berapa nilai waktu yang diwakili oleh satu div di layar
  • Position : Untuk mengatur posisi normal sumbu X (ketika sinyal masukannya nol)
  • AC/DC : Mengatur fungsi kapasitor kopling di terminal masukan osiloskop. Jika tombol pada posisi AC maka pada terminal masukan diberi kapasitor kopling sehingga hanya melewatkan komponen AC dari sinyal masukan. Namun jika tombol diletakkan pada posisi DC maka sinyal akan terukur dengan komponen DC-nya dikutsertakan.
  • Ground : Digunakan untuk melihat letak posisi ground di layar.
  • Channel 1/ 2 : Memilih saluran / kanal yang digunakan.
Pada umumnya osiloskop terdiri dari dua kanal (Dual Trace) yang bisa digunakan untuk melihat dua sinyal yang berlainan, misalnya kanal satu dipasang untuk melihat sinyal masukan dan kanal dua untuk melihat sinyal keluaran.

Lebih rinci perhatikan gambar panel kontrol Oscilloscope Dual Trace berikut :

Panel kontrol Oscilloscope
Keterangan gambar panel kontrol Osilokop Dual Trace diatas :
1.    VERTICAL INPUT : merupakan input terminal untuk channel-A/saluran A.
2.    AC-GND-DC : Penghubung input vertikal untuk saluran A.
  • Jika tombol pada posisi AC, sinyal input yang mengandung komponen DC akan    ditahan/di-blokir oleh sebuah kapasitor. 
  • Jika tombol pada posisi GND, terminal input akan terbuka, input yang bersumber dari penguatan internal di dalam Oscilloscope akan di-grounded. 
  • Jika tombol pada posisi DC, input terminal akan terhubung langsung dengan penguat yang ada di dalam Oscilloscope dan seluruh sinyal input akan ditampilkan pada layar monitor.
3.    MODE
  • CH-A :  tampilan bentuk gelombang channel-A/saluran A.
  • CH-B :  tampilan bentuk gelombang channel-B/saluran B.
  • DUAL : pada batas ukur (range) antara 0,5 sec/DIV – 1 msec (milli second)/DIV, kedua frekuensi dari kedua saluran (CH-A dan CH-B) akan saling berpotongan pada frekuensi sekitar 200k Hz. Pada batas ukur (range) antara 0,5 msec/DIV – 0,2 µ sec/DIV saklar jangkauan ukur kedua saluran (channel/CH) dipakai bergantian.
  • ADD : CH-A dan CH-B saling dijumlahkan. Dengan menekan tombol PULL INVERT akan diperoleh SUB MODE.
4.    VOLTS/DIV variabel untuk saluran (channel)/CH-A.
5.    VOLTS/DIV pelemah vertikal (vertical attenuator) untuk saluran (channel)/CH-A.
  • Jika tombol “VARIABLE” diputar ke kanan (searah jarum jam), pada layar monitor akan tergambar tergambar tegangan per “DIV”. Pilihan per “DIV” tersedia dari 5 mV/DIV – 20V/DIV.
6.    Pengatur posisi vertikal untuk saluran (channel)/CH-A.
7.    Pengatur posisi horisontal.
8.    SWEEP TIME/DIV.
9.    SWEEP TIME/DIV VARIABLE.
10.    EXT.TRIG untuk men-trigger sinyal input dari luar.
11.    CAL untuk kalibrasi tegangan pada 0,5 V p-p (peak to peak) atau tegangan dari puncak
         ke puncak.
12.    COMP.TEST saklar untuk merubah fungsi Oscilloscope sebagai penguji komponen
         (component tester). Untuk menguji komponen, tombol SWEEP TIME/DIV di “set” pada
         posisi CH-B untuk mode X-Y. tombol AC-GND-DC pada posisi GND.
13.    TRIGGERING LEVEL.
14.    LAMPU INDIKATOR.
15.    SLOPE (+), (-) penyesuai polaritas slope (bentuk gelombang).
16.    SYNC untuk mode pilihan posisi saklar pada; AC, HF REJ, dan TV.
17.    GND terminal ground/arde/tanah.
18.    SOURCE penyesuai pemilihan sinyal (syncronize signal selector). Jika tombol SOURCE pada
         posisi :
  • INT : sinyal dari channel A (CH-A) dan channel B (CH-B) untuk keperluan pen-trigger-an/penyulutan saling dijumlahkan,
  • CH-A : sinyal untuk pen-trigger-an hanya berasal dari CH-A,
  • CH-B : sinyal untuk pen-trigger-an hanya berasal dari CH-B,
  • AC   : bentuk gelombang AC akan sesuai dengan sumber sinyal AC itu sendiri,
  • EXT : sinyal yang masuk ke EXT TRIG dibelokkan/dibengkokkan disesuaikan dengan sumber sinyal.
      19.    POWER ON-OFF.
      20.    FOCUS digunakan untuk menghasilkan tampilan bentuk gelombang yang optimal.
21.    INTENSITY pengatur kecerahan tampilan bentuk gelombang agar mudah dilihat.
22.    TRACE ROTATOR digunakan utuk memposisikan tampilan garis pada layar agar tetap
         berada pada posisi horisontal. Sebuah obeng dibutuhkan untuk memutar trace rotator ini.
23.    CH-B POSITION tombol pengatur untuk penggunaaan CH-B/channel (saluran) B.
24.   VOLTS/DIV pelemah vertikal untuk CH-B
      25.    VARIABLE.
      26.    VERTICAL INPUT input vertikal untuk CH-B.
      27.    AC-GND-DC untuk CH-B kegunaannya sama seperti penjelasan yang terdapat pada
         nomor 2.
      28.    COMPONET TEST IN terminal untuk komponen yang akan diuji.
III. PROSEDUR KERJA
Langkah pertama yang harus kita lakukan yaitu pengkalibrasian. Setelah anda mengkoneksikan osiloskop ke jaringan listrik PLN dan menyalakannya, maka yang harus anda amati pada layar monitor yang tampak di layar adalah harus garis lurus mendatar (jika tidak ada sinyal masukan).

Selanjutnya langkah kedua atur fokus, intensitas, kemiringan, x position, dan y position. Dengan mengatur posisi tersebut kita nantinya bisa mengamati hasil pengukuran dengan jelas dan akan memperoleh hasil pengukuran dengan teliti.

Langkah ketiga gunakan tegangan referensi yang terdapat di osiloskop maka kita bisa melakukan pengkalibrasian sederhana. Ada dua tegangan referensi yang bisa dijadikan acuan yaitu tegangan persegi 2 Vpp dan 0.2 Vpp dengan frekuensi 1 KHz.

Kalibrasi Oscilloscope

Langkah keempat
tempelkan probe pada terminal tegangan acuan maka pada layar monitor akan muncul tegangan persegi.
  • Apabila yang dijadikan acuan adalah tegangan 2 Vpp maka pada posisi 1 volt/div (satu kotak vertikal mewakili tegangan 1 volt) harus terdapat nilai tegangan dari puncak ke puncak sebanyak dua kotak dan untuk time/div 1 ms/div (satu kotak horizontal mewakili waktu 1 ms) harus terdapat satu gelombang untuk satu kotak. 
  • Apabila yang tampat pada layar belum tepat maka perlu diatur pada potensio tengah di knob Volt/div dan time/div. Atau pada potensio dengan label "var".
III.1 Prinsip Kerja Osiloskop
            Prinsip kerja osiloskop yaitu menggunakan layar katoda. Dalam osiloskop terdapat tabung panjang yang disebut tabung sinar katode atau Cathode Ray Tube (CRT). Secara prinsip kerjanya ada  dua tipe osiloskop,yakni tipe analog (ART-analog real time oscilloscope) dan tipe digital(DSO-digital storage osciloscope),masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan. Para insinyur, teknisi maupun praktisi yang bekerja di laboratorium perlu mencermati karakter masing-masing agar dapat memilih dengan tepat osiloskop mana yang sebaiknya digunakan dalam kasus-kasus tertentu yang berkaitan dengan rangkaian elektronik yang sedang diperiksa atau diuji kinerjanya.
              Osiloskop Analog
            Osiloskop analog pada prinsipnya memiliki keunggulan seperti; harganya relatif lebih murah daripada osiloskop digital, sifatnya yang realtime dan pengaturannya yang mudah dilakukan karena tidak ada tundaan antara gelombang yang sedang dilihat dengan peragaan di layar, serta mampu meragakan bentuk yang lebih baik seperti yang diharapkan untuk melihat gelombang-gelombang yang kompleks,misalnya sinyal video di TV dan sinyal RF yang dimodulasi amplitudo. Keterbatasanya adalah tidak dapat menangkap bagian gelombang sebelum terjadinya event picu serta adanya kedipan (flicker) pada layar untuk gelombang yang frekuensinya rendah(sekitar 10-20 Hz).
            Penjelasan untuk skema prinsip kerja osiloskop analog:
1.      Saat kita menghubungkan probe (kabel penghubung yang ujungnya diberi penjepit) ke sebuah rangkaian, sinyal tegangan mengalir dari probe menuju ke pengaturan vertikal dari sebuah sistem osiloskop (Vertical System), sebuah attenuator akan melemahkan sinyal tegangan input sedangkan amplifier akan menguatkan sinyal tegangan input. Pengaturan ini ditentukan oleh kita saat menggerakkan kenop "Volt/Div" pada user interface Osiloskop.
2.      Tegangan yang keluar dari sistem vertikal lalu diteruskan menuju pelat defleksi vertikal pada sebuah CRT (Catode Ray Tube), sinyal tegangan yang dimasukkan ke pelat ini nantinya akan digunakan oleh CRT untuk menggerakkan berkas-berkas elektron secara bidang vertikal saja (ke atas atau ke bawah).
3.      Sampai point ini dapat disimpulkan bahwa sistem vertikal pada osiloskop analog berfungsi untuk mengatur penampakan amplitudo dari sinyal yang diamati.
4.      Selanjutnya sinyal masuk ke dalam pelat defleksi vertikal. Sinyal tegangan yang teraplikasikan disini menyebabkan berkas-berkas elektron bergerak. Tegangan positif mengakibatkan berkas elektron bergerak ke atas, sedangkan tegangan negatif menyebabkan elektron terdorong ke bawah.
5.      Sinyal yang keluar dari vertical system tadi juga diarahkan ke trigger system untuk memicu sweep generator dalam menciptakan apa yang disebut dengan "Horizontal Sweep" yaitu pergerakan elektron secara sweep - menyapu ke kiri dan ke kanan - dalam dimensi horizontal atau dengan kata lain adalah sebuah ungkapan untuk aksi yang menyebabkan elektron untuk bergerak sangat cepat menyeberangi layar dalam suatu interval waktu tertentu. Pergerakan elektron yang sangat cepat (dapat mencapai 500,000 kali per detik) inilah yang menyebabkan elektron tampak seperti garis pada layar (misalnya seperti daun kipas pada kipas angin yang tampak seperti lingkaran saja saat berputar).
6.      Pengaturan berapa kali elektron bergerak menyebrangi layar inilah yang dapat kita anggap sebagai pengaturan Periode/Frekuensi yang tampak pada layar, bentuk konkretnya adalah saat kita menggerakkan kenop Time/Div pada Osiloskop.
7.      Pengaturan bidang vertikal dan horizontal secara bersama-sama akhirnya dapat mempresentasikan sinyal tegangan yang diamati ke dalam bentuk grafik yang dapat kita lihat pada layar CRT.
Tahapan Penyetaraan (Kalibrasi) Osiloskop Analog
1.      Sesuaikan tegangan masukan sumber daya AC 220 yang ada di belakang osiloskop sebelum kabel daya AC dimasukkan stop kontak PLN.
2.      Nyalakan osiloskop dengan menekan tombol power.
3.      Set saluran pada tombol CH1.
4.      Set mode pada Auto.
5.      Atur intensitas, jangan terlalu terang pada tombol INTEN.
6.      Atur posisi berkas cahaya horizontal dan vertikal dengan mengatur tombol yang bernama horizontal dan vertikal.
7.      Set level mode pada tengah-tengah (-) dan (+).
8.      Set tombol tegangan (volt/div) bertanda V pada 2 V, sesuaikan dengan memperkirakan terhadap tegangan masukan.
9.      Pasang probe pada salah satu saluran, (misal CH1) dengan tombol pengalih AC/DC pada kedudukan AC.
10.  Atur saklar/switch pada pegangan probe dengan posisi pengali 1x.
11.  Tempelkan ujung probe pada titik kalibrasi.
12.  Atur Time/Div pada posisi 1 ms agar tampak kotak-kotak garis yang cukup jelas.
13.  Setelah tahapan 11, osiloskop siap digunakan untuk mengukur tegangan.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A.    KESIMPULAN.
1.      Secara umum fungsi dari osiloskop adalah untuk menganalisa tingkaah laku besaran yang berubah-ubah terhadap waktu yag ditampilkan pada layar, untuk melihat bentuk sinyal listrik yang sedang kita amati.
2.      Terdapat beberapa jenis tegangan gelombang yang terdapat padaa osiloskop yaitu gelombang sinusoida, gelombang blok, gelombang gigi gergaji dan gelombang segitiga.
3.      Cara penggunaan osiloskop adalah pertama pengkalibrasian kemudian menyetel fokus, intensitas, kemiringan, x position dan y position, setelah probe dikalibrasi maka dengan menempelkan probe ke terminal tegangan acuan maka akan muncul tegangan persegi pada layar.
4.      Layar osiloskop terbagi atas 8 skala besar arah vertikal dan 10 kotak dalam arah horizontal.
B.     SARAN.
1.      Sebaiknya sebelum kita menggunakan osiloskop kita harus mengetahui cara penggunaanya.
2.      Apabila kita ingin menggunakannya sebaiknya osiloskop harus distel atau di atur terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahan fatal dalam penggunaanya.
3.      Mintalah bantuan pembimbing untuk melakukan pratikum.
V.     DAFTAR PUSTAKA
Drs. Wahyudi, Agus M,pd.Dra. Susanna,M.p.alat ukur dan pengukuran.
Jeweet, dkk.  2000. Fisika sains. Jakarta: Erlangga.  
Wahyuni, Agus. 2012. Alat Ukur dan Pengukuran. Banda Aceh.
Tooley, Michael. 2002 . Prinsip dan Aplikasi Rangkaian Elektronika edisi kedua.Jakarta ;                           Penerbit  Erlangga.
http://elektronika elektronika.blogspot.com/2007/06/bagian-bagian-osiloskop.html
osciloscope-.html)